Headline News
print this page
Artikel Terbaru

Menasihati Diri (Bagian II) ( Terj Kitab Bidayatul Hidayah )

Menasihati Diri (Bagian II)
( Terj Kitab Bidayatul Hidayah )

Allah Swt. menjanjikan neraka bagimu karena engkau menginginkan dunia. Segala sesuatu yang tak menyertaimu setelah mati, adalah termasuk dunia. Apakah engkau telah membersihkan diri dan keinginan dan cinta pada dunia? Seandainya ada seorang dokter Nasrani yang memastikan bahwa engkau akan mati atau sakit jika memenuhi nafsu syahwat yang paling menggiurkan, niscaya engkau akan takut dan menghindarinya. Apakah dokter Nasrani itu lebih engkau percayai ketimbang Allah Swt.? Jika itu terjadi, betapa kufurnya engkau!
Atau apakah menurutmu penyakit itu lebih hebat dibandingkan neraka? Jika demikian, betapa bodohnya engkau ini! Engkau membenarkan tapi tak mau mengambil pelajaran. Bahkan engkau terus saja condong kepada dunia. Lalu aku datangi diriku dan kuberikan padanya juru nasihat yang diam (kematian). Kukatakan, "Pemberi nasihat yang berbicara (Alquran) telah memberitahukan tentang pemberi nasihat yang diam (kematian), yakni ketika Allah berfirman,:
ﻗﻞ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺮﻭﻥ ﻣﻨﻪ ﻓﺈﻧﻪﻣﻠﺎﻗﻴﻜﻢ ﺛﻢ ﺗﺮﺩﻭﻥ ﺇﻟﻰ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐﻭﺍﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻓﻴﻨﺒﺌﻜﻢ ﺑﻤﺎ ﻛﻨﺘﻢ ﺗﻌﻤﻠﻮﻥ
'Sesungguhnya kematian yang kalian hindari akan menjumpai kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada alam gaib. Lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan' (Q.S. al-Jumuah: 8).

" Kukatakan padanya, "Engkau telah condong pada dunia. Tidakkah engkau percaya bahwa kematian pasti akan mendatangimu? Kematian tersebut akan memutuskan semua yang kau punyai dan akan merampas semua yang kau senangi. Setiap sesuatu yang akan datang adalah sangat dekat, sedangkan yang jauh adalah yang tidak pernah datang. Allah Swt berfirman,
ﺃﻓﺮﺃﻳﺖ ﺇﻥ ﻣﺘﻌﻨﺎﻫﻢ ﺳﻨﻴﻦ.ﺛﻢ ﺟﺎﺀﻫﻢ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻮﻋﺪﻭﻥ
Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kenikmatan pada mereka selama beberapa tahun? Kemudian datang pada mereka siksa yang telah dijanjikan untuk mereka? Tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka nikmati itu.' (Q.S. asySyuara: 205-206)."
Jiwa yang merdeka dan bijaksana akan keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya.
Sementara jiwa yang lawwamah (sering mencela) akan terus memegang dunia sampai ia keluar dari dunia dalam keadaan rugi, menyesal, dan sedih. Lantas ia berkata, "Engkau benar." Itu hanya ucapan belaka tapi tidak diwujudkan. Karena, ia tak mau berusaha sama sekali dalam membekali diri untuk akhirat sebagaimana ia merancang dunianya. Ia juga tak mau berusaha mencari rida Allah Swt. sebagaimana ia mencari rida dunia.
Bahkan, tidak sebagaimana ia mencari rida manusia. Ia tak pernah malu kepada Allah sebagaimana ia malu kepada seorang manusia. Ia tak mengumpulkan persiapan untuk negeri akhirat se¬ bagaimana ia menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musim kemarau. Ia begitu gelisah ketika berada di awal musim dingin manakala belum selesai mengumpulkan perlengkapan yang ia butuhkan untuknya, padahal kematian barangkali akan menjemputnya sebelum musim dingin itu tiba.
Kukatakan padanya, "Bukankah engkau bersiap-siap menghadapi musim kemarau sesuai dengan lama waktunya lalu engkau membuat perlengkapan musim kemarau sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi panas?" Ia menjawab: "Benar." "Kalau begitu", kataku, "Bermaksiatlah kepada Allah sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi neraka dan bersiap-siaplah untuk akhirat sesuai dengan kadar lamamu tinggal di sana." Ia menjawab, "Ini merupakan kewajiban yang tak mungkin diabaikan kecuali oleh seorang yang dungu." Ia terus dengan tabiatnya itu. Aku seperti yang disebutkan oleh para ahli hikmat, "Ada segolongan manusia yang separuh dirinya telah mati dan separuhnya lagi tak tercegah."
Aku termasuk di antara mereka. Ketika aku melihat diriku keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil manfaat dari nasihat kematian dan Alquran, maka yang paling utama harus dilakukan adalah mencari sebabnya disertai pengakuan yang tulus. Hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan.
Aku terus-menerus mencari hingga aku menemukan sebabnya. Ternyata aku terlalu tenang. Oleh karena itu berhati-hatilah darinya. Itulah penyakit kronis dan sebab utama yang membuat manusia tertipu dan lupa. Yaitu, keyakinan bahwa maut masih lama.
Seandainya ada orang jujur yang memberikan kabar pada seseorang di siang hari bahwa ia akan mati pada malam nanti atau ia akan mati seminggu atau sebulan lagi, niscaya ia akan istikamah berada di jalan yang lurus dan pastilah ia meninggalkan segala sesuatu yang ia anggap akan menipunya dan tidak mengarah pada Allah SWT.
Jelaslah bahwa siapa yang memasuki waktu pagi sedang ia berharap bisa mendapati waktu sore, atau sebaliknya siapa yang berada di waktu sore lalu berharap bisa mendapati waktu pagi, maka sebenarnya ia lemah dan menunda-nunda amalnya. Ia hanya bisa berjalan dengan tidak berdaya. Karena itu, aku nasihati orang itu dan diriku juga dengan nasihat yang diberikan Rasullah saw ketika beliau bersabda,"Salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia)." Beliau telah diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang singkat, padat, dan tegas.
Itulah nasihat yang berguna. Siapa yang menyadari dalam setiap salatnya bahwa salat yang ia kerjakan merupakan salat terakhir, maka hatinya akan khusyuk dan dengan mudah ia bisa mempersiapkan diri sesudahnya. Tapi, siapa yang tak bisa melakukan hal itu, ia senantiasa akan lalai, tertipu, dan selalu menunda-nunda hingga kematian tiba.
Hingga, pada akhirnya ia menyesal karena waktu telah tiada. Aku harap ia memohonkan kepada Allah agar aku diberi kedudukan tersebut karena aku ingin meraihnya tapi tak mampu. Aku juga mewasiatkan padanya agar hanya rida dengannya dan berhati-hati terhadap berbagai tipuan yang ada. Tipuan jiwa hanya bisa diketahui oleh mereka yang cendekia.
====
wallahu'alam
0 komentar

TERJEMAH KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

TERJEMAH KITAB BIDAYATUL HIDAYAH
-------
I. Risalah Nasihat
Mukadimah
Aku mendengar dari orang yang kupercaya tentang sejarah perjalanan hidup Syaikh al-Imam az-Zahid. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik pada beliau dan memeliharanya dalam menjalankan risalah agama¬Nya. Sejarah perjalanan hidup beliau memperkuat keinginanku untuk menjadi saudaranya di jalan Allah Swt. karena mengharapkan janji yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya yang saling mencinta.
Persaudaraan tidak harus dengan bertemu muka dan berdekatan secara fisik, tapi yang dibutuhkan adalah adanya kedekatan hati dan perkenalan jiwa. Jiwa-jiwa merupakan para prajurit yang tunduk; jika telah saling mengenal, jiwa-jiwa itu pun jinak dan menyatu. Oleh karenanya, aku ikatkan tali persaudaraan dengannya di jalan Allah Swt..
Selain itu, aku harap beliau tidak mengabaikanku dalam doa-doanya ketika sedang berkhalwat serta semoga beliau memintakan kepada Allah agar diperlihatkan kepadaku bahwa yang benar itu benar dan aku diberi kemampuan untuk mengikutinya, dan yang salah itu salah serta aku diberi kemampuan untuk meng¬hindarinya. Kemudian aku dengar beliau memintaku untuk memberikan keterangan berisi petuah dan nasihat serta uraian singkat seputar landasan-landasan akidah yang wajib diyakini oleh seorang mukalaf.
-------------------------------------------------------
MENASIHATI DIRI Bag.1 (Kitab Bidayatul Hidayah)
-------------------------------------------------------
Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya adalah mengambil nasihat atau pelajaran un¬tuk diri sendiri. Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya tak mungkin dijadikan alat penerang oleh yang lain.
Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok? Allah Swt. mewahyukan kepada Isa bin Maryam, “Nasihatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasihat, maka nasihatilah orang-orang. Jika tidak, malulah kepada-Ku.” Nabi kita saw bersabda, “Aku tinggal¬kan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.”
Pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, sedangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mau mengambil nasihat. Siapa yang tak mau mengambil nasihat dan keduanya, bagaimana ia akan menasihati orang lain? Aku telah menasihati diriku dengan keduanya.
Lalu aku pun membenarkan dan menerimanya dengan ucapan dan akal, tapi tidak dalam kenyataan dan perbuatan. Aku berkata pada diri ini, “Apakah engkau percaya bahwa Alquran merupakan pemberi nasihat yang berbicara dan juru nasihat yang benar, serta merupakan kalam Allah yang diturunkan tanpa ada kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya?” Ia menjawab, “Benar.” Allah Swt. berfirman, “Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan amal perbuatan mereka di dunia dan mereka di dunia ini tak akan dirugikan. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka. Dan gugurlah semua amal per-buatan mereka serta batallah apa yang mereka kerjakan” (Q.S. Hud: 15-16).
---
wallahu'alm

0 komentar

Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah (ASWAJA)

SIFAT WAJIB BAGI ALLOH SWT dan RASULULLAH SAW

Orang mukallaf secara syara’ wajib mengetahui hal-hal yang wajib, mustahil danjaiz bagi Alloh dan rosul-rosul-Nya. Termasuk hal yang wajib (pasti) bagi Alloh adalah 20 sifat yang terbagi sebagai berikut :
a. Sifat Nafsiyyah
1.Wu jud (ada)
b. Sifat Salbiyyah
2. Qidam (dahulu tanpa permulaan) 3. Baqo’ (kekal abadi) 4. Mukholafatul lil khawadits (berbeda denga makhluq) 5. Qiyamuhu binafsih (berdiri sendiri), tidak membutuhkan tempat dan pembuat (yang mewujudkan) 6. Wahdaniyyah (satu Dzat, sifat dan tindakan-Nya)
c. Sifat Ma’aniy
7.Qudroh(kuasa) 8.Irodah(berkehendak) Qudroh dan Irodah berta’aluq dengan segala sesuatu yang mungkin adanya (mumkinat) 9.‘Ilmu(mengetahui) Berta’aluq dengan segala yangwajib (pasti),jaiz danmustahil. 10.Hayat(hidup) Tidak berta’aluq dengan sesuatupun 11.Sama’(menden gar) 12.Bashor(melihat) Sama’dan Bashorberta’aluq dengan segala sesuatu yang ada (maujud) 13.Kalam(berfirman) Berbicara tanpa dengan huruf dan suara.Kalam berta’aluq dengan segala yangwajib (pasti),jaiz danmustahil.
Ta’aluq adalah tuntutan sifat terhadap suatu tambahan pada dzat (yang mempunyai sifat itu), sesuai dengan sifat itu. Misal melihat, menuntut adanya barang yang dilihat, nah tuntutan/hubungan antara melihat (sebagai sifat) dengan barang yang dilihat (sebagai tambahan bagi dzat yang melihat), itulahta’aluq. Berbeda dengan hidup, yang tidak menuntut tambahan lain selain pada dzat yang hidup itu sendiri, sehingga hidup itu tak mempunyai ta’aluq.
d. Sifat Ma’nawiyyah
Merupakan sifat-sifat yang sangat erat hubungannya (mulazimah) dengan tujuh sifatMa’ani y sebelumnya. Alloh bersifat kuasa (Qudroh), maka keadaan Alloh itu pasti Dzat yang maha berkuasa (Qoodir) dan seterusnya.
14.Adanya Alloh itu Dzat yang berkuasa (Qoodir)
15.Adanya Alloh itu Dzat yang berkehendak (Muriid)
16.Adanya Alloh itu Dzat yang mengetahui (‘Aalim)
17.Adanya Alloh itu Dzat yang hidup (Hayyun)
18.Adanya Alloh itu Dzat yang mendengar (Samii’)
19.Adanya Alloh itu Dzat yang melihat (Bashiir)
20.Adanya Alloh itu Dzat yang berfirman (Mutakallim)
SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLOH SWT
Termasuk hal yang mustahil bagi Alloh adalah 20 sifat kebalikan dari 20 sifat wajib sebelumnya, yakni : 1. ‘Adam(tiada) 2. Khuduts(baru) 3. Fana’ (rusak, menjadi tiada) 4. Mumatsalatul lil khawadits (sama dengan makhluq). Misal : - Berupajirm (materi benda) yang butuh tempat kosong - Berupa‘ i rd h (sifat/tabiat/kelakuan) yang menempel pada jirm - Berada di arah suatujirm - Mempunyai arah (di atas, di kiri, di selatan dsb.) - Dibatasi oleh ruang dan waktu - Dzat-Nya disifati dengan hal-hal yang baru - Disifati dengan kecil atau besar - Mempunyai tujuan-tujuan dengan tindakan dan hukum-hukum-Nya. Jadi dalam penciptaan manusia dan adanya perintah kewajibansholat, Alloh tidak mempunyai tujuan-tujuan tertentu misal supaya mereka menyembah dan ingat kepada Alloh. Namun semua itu mempunyai hikmah sehingga tidak sia-sia penciptaannya. 5. Ihtiyajuhu lighoirih (tidak berdiri sendiri, butuh yang lain), misal berupa sifat yang ada pada satu tempat, atau membutuhkan pembuat (yang mewujudkan). 6. Ta’adud (berbilangan, berjumlah, tidak esa). Misal : - Dzatnya mempunyai kembaran yang lain - Benda-benda yang ada itu mempunyai peran dalam menyebabkan sesuatu disamping Alloh sendiri. Jadi api itu tidak menyebabkan terbakar, pisau itu tidak menyebabkan terpotong, dan makanan itu tak menyebabkan kenyang, yang menyebabkan (muatstsir) itu semua adalah Alloh sendiri. 7. ‘Ajz (lemah) dari segala yang mungkin (mumkin). 8. Karohah (terpaksa). Mustahil Alloh menjadikan satu bagian alam disertai rasa terpaksa atas terjadinya hal itu, dengan kata lain tanpa menghendakinya, atau menjadikannya karena lupa, karena sebab tertentu atau karena watak tabiatnya. 9. Jahl (bodoh, tidak mengetahui) terhadap segala yang ma’lum. 10.Maut(mati) 11.Shomam(tuli) 16.Jaahil (Dzat yang bodoh) 12.‘Amaa(buta) 17.Ma yyit (Dzat yang mati) 13.Bukm(bisu) 18.Ashomm (Dzat yang tuli) 14.‘Aajiz (Dzat yang lemah) 19.A’ maa (Dzat yang buta) 15.Kaarih (Dzat yang terpaksa) 20.Abka m (Dzat yang bisu)

SIFAT JAIZ BAGI ALLOH SWT
SifatJaiz (wenang) Alloh adalah fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu, melakukan segala sesuatu yang mungkin atau meninggalkannya. Alloh bebas menciptakan seseorang itu besar, gemuk, tinggi, hitam, kaya dan pandai, atau tidak seperti itu. 
-------
SIFAT-SIFAT WAJIB PARA ROSUL
1. Shidhq (benar)
Sesuainya khobar (informasi) dari mereka dengan kenyataan (realitas) yang ada. Ada tiga macam bentuk sidhq-nya :
1. benar dalam da’wah kerosulan (risalah) yang dibawanya
2. benar dalam dalam hokum-hukum yang mereka sampaikan dari Alloh
3. benar dalam ucapan yang berhubungan erat dengan masalah keduaniaan, misal mengatakan Zaid telah datang, aku telah makan, aku membelinya dari Umar dsb. Yangdimaksud disini adalah nomor 1 dan 2, sedang nomor 3 masuk amanah.
2. Amanah (terpercaya)
Tiadanya khianat mereka untuk melakukan perbuatan haram atau makruh : Terjaganya jiwa-raga mereka dari perbuatan yang dilarang, baik haram maupun makruh. : Sesuatu yang menancap dengan kuat (dimiliki) dalam hati yang mencegah pemiliknya melakukan hal-hal yang dilarang. : Terjaga dari berbuat dosa (‘ishmah)
3. Tabligh (menyampaikan)
Menyampaikan apa (wahyu) yang diperintahkan pada mereka untuk disampaikan pada makhluq (umatnya). Ada tiga macam bentuk wahyu :
1.Apa yang wajib mereka sampaikan
2.Apa yang wajib mereka rahasiakan (simpan)
3.Apa yang mereka diberi pilihan antara disampaikan atau disimpan, terserah.
4. Fathonah (cerdas)
Para rosul pasti bersifat fathonah, yaitu cerdas dan waspada pikirannya, guna mendukung da’wah risalahnya.
Maksud wajib disini adalah tiada lepasnya sifat-sifat tersebut, meski dengan dalil syara’, karena wajibnya sfat amanah dan tabligh dengan dalil syara’ (naqliy), sedang wajibnya shidq dengan dalil akal (‘aqliy), walaupun mu’jizat yang sebagai tanda yang menunjukkan shidhq, itu berdasar adat kebiasaan (‘adiy).
SIFAT-SIFAT MUSTAHIL PARA ROSUL
1. Kidzb (bohong) : Tidak sesuainya informasi yang diberikan, dengan realitas yang ada. 2. Khianat : Melakukan tindakan (termasuk ucapan) yang dilarang baik haram maupun makruh, meski pernah diriwayatkan nabi pernah buang air kecil sambil berdiri, basuhan wudhu berkali-kali pernah dua kali-dua kali, karena itu untuk tasyri’ (memberi pelajaran syara’) dan menerangkan kebolehannya, dan tasyri’ seperti itu adalah wajib bagi beliau. 3. Kitman (menyembunyikan) : Merahasiakan (menyimpan) sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan, meskipun lupa. Karena mereka tidak boleh lupa terhadap hokum-hukum yang harus mereka sampaikan dari Alloh, walaupun dalam masalah lain mereka boleh lupa. Nabi sendiri pernah lupa untuk mengerjakan sholat, tetapi disebabkan kesibukan hatinya mengagungkan Alloh. 4.Al-Ghoflah (lalai) & ‘Adamul Fathonah (tidak cerdas)
SIFAT JAIZ PARA ROSUL
Para rosul boleh memiliki atau melakukan kelakuan atau watak manusia biasa (al- a’roodh al-basyariyyah), yang tidak mengakibatkan berkurangnya martabat mereka yang luhur, misal sakit, lelah, makan, minum, mengantuk, tidur, beristri dan sebagainya.


1 komentar

Ratibul Haddad


Û        بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. الم. ذَالِكَ الْكِِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ اَلّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلأَخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. أُلآئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
#           Bismillahirromaanirrohim Alif Laam Miim, Dzaalikal Kitaabu Laa Roiba Fiihi Huudal Lillmuttaqin Alladziina Yu’minuuna Bil Ghoibi Wa Yuqimuunas Sholaata Wamimma Rozaknaahum Yunfiquuna, Walladziina Yu’minuuna Bimaa Unzila Ilaika Wamaa Unzila Min Qoblika Wabil Aaakhiroti Hum Yuuqinuun, Ulaaika ’Alaa Hudam Mirrobbihim Wa Ulaaika Humul Muflihuun
Artinya : Alif Laam Miin. Itulah Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki  yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung
Û        وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْم

#           Wa Ilaahukum Ilaahuw Waahid Laa Ilaaha Illah Huwar Rohmaanur Rohim
Artinya : Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa, Tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Û        اَللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ.
#           Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qoyyum, Laa Ta'khu Dzuhu Sinatuw Walaa Naum, Lahu Maa Fis Samaawaati Wal Ardhi, Man Dzal Ladzi Yasy Fa’u ‘Indahu Illa Bi Idzihi, Ya’lamu Maa Baina Aidihim Wamaa Kholfihim Walaa Yuhiituna Bi Sya’in Min Ilmihi Illa Bimaa syaa’a, Wasi’a Kursiyuhus Samaawati War Ardh Walaa Ya Uudhuhu Hifdzuhuma Wa Huwal ‘Aliyyul ‘Adzim”.
Artinya : Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Û        لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْ أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير, أَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ أَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلآئِِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ, لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ, رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
#           Lillahi Maa Fis Samaawaati Wamaa Fil Ardhi Wa In Tubduu Maa Fii Anfusikum Au Tukh Fuuhu Yuhaa Sibkum Bihillah Fayaghfiru Limay Yasya’ Wa Yu’adz Zibu May Yasya’ Wallahu ‘Alaa Kulli Sya’in Qodir, Aamanar Rosuulu Bimaa Unzila Ilaihi Mir Robbihi Wal Mu’minuun, Kullun Aamana Billahi Wa Malaaikatihi Wa Kutubuhi Wa Rosulihi Laa Nufarriku Baina Ahadim Mir Rosulih, Waqoolu Sami’na Wa Atho’na Ghufroo Naka Robbana Wa Ilaikal Mashir, Laa Yukallifullahu Nafsan Illa Wus ‘Aha , Lahaa Maa Kasabat Wa ‘Alaiha Mak Tasabat, Robbanaa Laa Tu’aakhidzna In Nasiina Au Akh Tho’na Robbana Walaa Tahmil Alaina Isron Kamaa Hamaltahu ‘Alaal Ladziina Min Qoblina Robbana Walaa Tuhammilna Maa Laa Thooqota Lanaabih Wa’fu Anna Waghfir lanaa Warhamna Anta Maulanaa Fanshurnaa ‘Alaal Qaumil Kaafirin”.
Artinya : Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."
Û        لآَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لآ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (3×).
#           La Ilaaha Illallahu Wahdahu La Syariikalahu Lahul Mulku Walahul Hamdu Yuhyi Wayumiitu Wahuwa 'Alaa Kulli Sya’in Qodiir (3x).
Artinya : “Tiada Tuhan melainkan Allah, Esa tiada sekutu baginya. Baginyalah kekuasaan dan baginyalah pula segala pujian, Ia yang menghidupkan dan Ia pula yang mematikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”.
Û        سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ (3×).
#           Subhaanallahi Walhamdu Lillahi Walaa Ilaaha Illallahu Wallahu Akbar (3x).
Artinya : “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Allah Maha Besar”.
Û        سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (3×).
#           Subhaanallahi Wabihamdihi Subhaanallahil 'Adzhim (3x)
Artinya : “Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah Yang Maha Agung
Û        رَبَّناَاغْفِرْلَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ (3×).
#           Robbanagh Firlanaa Watub 'Alaina Innaka Antat Tawwabur Rohim (3x)
Artinya : “Ya Allah berilah kami ampunan, terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Û        أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (3×).
#           Allahumma Sholli 'Alaa Muhammad Allahuma Sholli 'Alaihi Wasallim (3x)
Artinya : “Ya Allah limpahkan rahmat dan salam sejahtera untuk junjungan Kami Muhammad SAW”.
Û        أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَاخَلَقَ (3×).
#           A 'Uudzu Bikalimaatillahit Tammaati Min Syarrima Kholaq (3x)
Artinya : “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala bentuk kejahatan yang ia ciptakan”.
Û        بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (3×).
#           Bismillahil Ladzi Laa Yadhurru Ma 'Asmihi Syai'un Fir Ardhi Walaa Fissamaa'i Wahuwas Samii'ul 'Alim(3x).
Artinya : ‘Dengan nama Allah yang tidak akan bermudharat sesuatu apapun beserta namaNya di permukaan bumi, tidak juga di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Û        رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالاِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا(3×).
#           Rodhiina Billahi Robban Wabil Islaami Diinan Wabi Muhammadin Nabiyya (3x).
Artinya : “Kami rela Allah Tuhan kami, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi”.
Û        بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّرُّ بِمَشِيْئَةِ اللهِ (3×).
#           Bismillahi Walhamdu Lillahi Wal Khoir Wassyarru Bimasyi Atillahi (3x).
Artinya : “Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, kebaikan dan keburukan sesuai dengan kehendak Allah”.
Û        آَمَنَّا بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ تُبْنَا اِلَى اللهِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا (3×).
#           Aamanna Billahi Wal Yaumil Aakhir Tubnaa Ilallahi Baathina Wadzhoohir (3x).
Artinya : “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir dan kami bertaubat kepada Allah secara lahiriah dan batiniah”.
Û        يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا (3×).
#           Yaa Robbana Wa'fu Anna Wamhul Ladzii Kaana Minna (3x).
Artinya : “Wahai Tuhan kami, maafkanlah kesalahan kami dan hapuskanlah dosa-dosa yang ada pada diri kami”.
Û        يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَِمتْنَا عَلَى دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ (7×).
#           Yaa Dzal Dzalaali Wal Ikrom Amitnaa 'Alaa Diinil Islam (7x).
Artinya : “Wahai zat yang memiliki ke-agungan dan kemuliaan, wafatkanlah kami dalam keadaan beragama Islam”.
Û        يَا قَوِيُّ يَا مَتِيْنُ إِكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْنَ (3×).
#           Yaa Qowiyyu Yaa Matiinu Ikfi Syarrodz Dzolimiin (3x)
Artinya : “Wahai Zat Yang Maha  kuat lagi  Maha  perkasa, Lindungilah aku dari keja­ha­tan orang-orang yang zalim”.
Û        اَصْلَحَ اللهُ اُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ (3×).
#           Ash Lahallalhu Umuurol Muslimin Sharofallahu Syarrol Mu'dzin (3x).
Artinya : “Semoga Allah memperbaiki kepentingan dan urusan kaum muslimin dan menyingkirkan kejahatan orang-orang yang mengganggu”.
Û        يَا عَلِيُّ يَا كَبِيْرُ يَا عَلِيْمُ يَا قَدِيْرُ يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ ß ( أَلله) يَا لَطِيْفُ يَا خَبِيْرُ (3×).
#           Yaa 'Aliyyu Yaa Kabiir Yaa 'Aliimu Yaa Qoodir Yaa Samii'u Yaa Bashiir (Allah) Yaa Lathifu Yaa Khobir (3x).
Artinya : “Wahai zat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa, Wahai zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Wahai zat Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
Û        يَافَارِجَ الْهَمِّ يَاكَاشِفَ الغَمِّ يَامَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ (3×).
#           Yaa Farrijal Ham Yaa Kaa Syifal Ghroom Yaa Man Li 'Abdihi Yaghfirru Wayarham (3x).
Artinya : “Wahai zat yang melepaskan kegelisahan dan menyingkap kegundahan, wahai zat yang Maha Mengampuni dan Mengasihi hambanya”.
Û        أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ منَ الْخَطَايَا (4×).
#           Astaghfirullah Robbal Barooya Astaghfirullah Minal Khotooya(3x)
Artinya : “Saya memohon ampunan dari Allah Tuhan para makhluk, saya memohon ampunan dari Allah atas segala kesalah­an”.
Û        الْحَقِّ الْمَعْبُوْدْ : لآاِلَهَ اِلاَّ اللهُ - لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ 
(25×دوا-دوا ساتو نفاس)
#           Al-Haggil Ma'buud ---> Laa Ilaaha Illallahu Laa Ilaaha Illallah (25x dua-dua satu nafas)
Artinya : Dialah ( Allah) yang sebenarnya yang patut disembah :
“Tiada Tuhan selain Allah - Tiada Tuhan selain Allah”.
Û        لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدُ الرَّسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ, وَشَرَّفَ وَ كَرَّمَ وَمَجَدَّ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ اْلطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَ أَصْحَابَهِ اْلأَكْرَمِيْنَ وَأَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالتَّابِعِينْ لَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَنَّا مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ اْلرَّاحِمِيْن.
(كموديان باج : سورة الإخلاص 3× الفلق 1 × الناس 1 × )
#           “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam Wa Syarrofa Wa Karroma Wa Majjada Wa Adzzoma Wa Rodhiyalllah Ta’ala ‘An Ahli Baitihit Thoiyyibiinat Thoohiriin Wa As Haabihil Akromiin Wa Ajwaajihit Thoohirooti Ummahaatil Mu’miniina Wattabi’iina Lahum Bi Ihsaani Ilaa Yaumiddin  Wa’Anna Ma’ahum Wa Fiihim Birohmatika Yaa Arhamar Roohimin”.(Kemudian baca Al-Ikhlas 3X Al-Falaq 1X An-nas 1X)
Artinya : Tiada Tuhan Selain Allah Nabi Muhammad adalah utusan Allah, semoga tambahan Rahmat Ta’zim dari Allah Ta’ala atas-Nya dan tambahan salam dan tambahan kemulyaan dan tambahan keluhuran dan tambahan keagungan dan tambahan kebesaran. Dan semoga Allah Ta’ala meridhoi atas keluargannya nabi yang baik-baik dansuci-suci serta sahabat-sahabat nabi yang mulya-mulya dan istri-isteri nabi yang suci-suci sebagai ibunya orang-orang yang beriman dan juga terhadap para pengikut mereka yang mengikuti dengan kebaikan sampai dengan hari kiamat dan atas kita juga semua dapat disertakan bersama mereka atas rahmat-Mu Ya Allah Wahai Dzat Yang Maha Penyayang dari pada orang-orang yang menyayangi
Û        اَلْفَاتِحَةْ اِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا وَ شَفِيْعِنَا رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ بِاَنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمْهُمْ وَ يُعْلِىْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَ اَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى اْلدِّيْنِ وَاْلدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ يَجْعَلُنَا مِنْ حِزْبِهِمْ وَيَرْزُقْنَا مَحَبَّتَهُمْ وَ يَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَا فِى زُمْرَتِهِمْ- بِسِرِّ اَلْفَاتِحَةَ : (بَاچَ سُوْرَةُ الْفَاتِحَةْ 1× )
#           Al-Fatehah Ilaa Ruuhi Sayyidina Wa Habiibina Wa Syafii’ina Rosuulillah Muhammad Îbni Âbdillah Sholallahu Âlaihi Wa Aalihi Wa Ashhaabihi Wa Azwaajihi Wadzurriyatihi. Bi Annallaha Yagfiru Lahum Wa Yarhamhum Wa Yu’lii Darojaatihim Fil Jannah Wa Yanfa’unaa Bi Asroorihim Wa Anwaarihim Wa Uluumihim Fiddiini Waddunnya Wal Aakherah Wa Yaj Alunaa Min Hizbihim Wa Yarzuqnaa Mahabbatahum Wa Yatawaffanaa Alaa Millaatihim Wa Yahsyurunaa Fii Zumrootihim Bisirril Faatehah
( Maka baca Al-Fatehah 1 X )
Û        أَلْفَاتِحَةَ لِسَيِّدِنَا وَقُدْوَتِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّدْ بِنْ عَلِي بَاعَلَوِيْ وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ وَجَمِيْعِ سَادَاتِنَا آلِ بَاعَلَوِيْ بِأَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُنَوِّرُ ضَرَائِحَهُمْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكاَتِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. بِسِرِّ الْفَاتِحَةَ.....(باج سورة الفاتحة ساتوكالي)
#           “Al-Fatehah Lisayyidina Waqudwatinal Faqiehil Muqoddam Muhammad Bin Ali Ba'alawi Wa Ushulihi Wa Furu'ihi Wa Jami'i Saadatina Aali Ba'alawi Biannallaha Yu'li Darojaatihim Fil Jannah Wa Yunawwidoro I Ahum Wa Yu'iidu Alaina Min Barokaatihim Wa Asroorihim Wa Anwaarihim Fid Diini Wad Dunnya Wal Aakhiroh, Bisirril Faatehah (Baca Surah Al-Fatehah 1X)”.
Artinya : Al-Fatehah dihadiahkan kepada pemimpin kami dan panutan kami Al-Faqihil Muqoddam Muhammad Bin Ali Ba’alawi beserta para leluhurnya dan para keturunannya dan kepada semua pemimpin kami dari pada keluarga besar Ba’alawi. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka di dalam surga dan memberikan cahaya didalam kuburan mereka dan semoga Allah Ta’ala mengembalikan kepada kami dari pada keberkatan mereka dan rahasia-rahasia mereka dan cahaya-cahaya mereka di dalam agama dunia dan akherat dengan berkat rahasia suratul faatehah.
Û        أَلْفَاتِحَةَ لِجَمِيْعِ سَادَاتِنَا الصُّوْفِيَةِ وَجَمِيْعِ أَوْلِيَآءِ اللهِ تَعَالَى مِنْ مَشَارِقِ اْلأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا بِأَنَّ اللهَ يُقَدِّسُ أَرْوَاحَهُمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُنَوِّرُ ضَرَائِحَهُمْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكاَتِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِى خَيْرٍ وَلُطْفٍ وَعَافِيَةٍ, بِسِرِّ الْفَاتِحَةَ(باج سورة الفاتحة ساتوكالي)
#           “Al-Fatehah Li Jamii'i  Saadatinas Shuufiyati Wa Jamii'i  Auliya'illahi Ta'aala Min Masyaariqil Ardhi Ilaa Maghooribiha Barriha Wa Bahriha Bi Annallaha Yuqoddisu Arwaahahum Fil Jannah Wa Yunawwiru Dhoroo I Ahum Wa Yu'iidu Alaina Min Barokaatihim Wa Asroorihim Wa Anwaarihim Fid Diini Wad Dunnya Wal Aakhiroh,Wa Yulhiquna Bihim Fii Khoirin Wa Luthfin Wa ‘Aafiah, Bisirril Faatehah (Baca Surah Al-Fatehah 1X)”.
Artinya : Al-Fatehah dihadiahkan kepada semua pemimpin kami yang sufi (ahli sufi ) dan kepada semua para wali-wali Allah dari ufuk timur bumi dan baratnya, daratannya dan lautannya, semoga Allah Ta’ala mensucikan arwah-arwah mereka di dalam surga dan memberikan cahaya didalam kuburan-kuburan mereka dan semoga Allah mengembalikan kepada kami dari pada keberkatan mereka dan rahasia-rahasia mereka dan cahaya-cahaya mereka di dalam agama dunia dan akherat dan semoga Allah menjadikan kami sebagai orang-orang yang mengikuti mereka didalam mendapatkan kebaikan kelembutan dan keafiatan dengan berkat rahasia suratul faatehah.
Û        أَلْفَاتِحَةَ لِصَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْبِلاَدِ سَيِّدِنَا الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَلْوِى الْحَدَّادِ وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ بِأَنَّ للهَ يُقَدِّسُ أَرْوَاحَهُمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُنَوِّرُ ضَرَائِحَهُمْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكاَتِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ, بِسِرِّ الْفَاتِحَةَ....... (باج الفاتحة ساتوكالي)
#           “Al-Faatehah Lishoohibir Rootib Quthbil Irsyad Wa Ghoutsil Bilaad Sayyidina Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad Wa Ushulihi Wa Furu'ihi Biannallaha Yuqoddisu Arwaahahum Fil Jannah Wa Yunawwiru Dhoroo I Ahum Wa Yu'iidu Alaina Min Barokaatihim Wa Asroorihim Wa Anwaarihim Fid Diini Wad Dunnya Wal Aakhiroh, Bisirril Faatehah (Baca Al-Fatehah 1X)”.
Artinya : Al-Faatehah di hadiahkan kepada pengarang Ratib Quthbil Irsyad Wa ghoutsil Bilad Tuan kami Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dan beserta para leluhurnya dan para keturunnya, semoga Allah mensucikan arwah-arwah mereka di dalam surga dan memberikan cahaya didalam kuburan mereka dan mengembalikan kepada kami dari pada keberkahan mereka dan rahasia-rahasia dari mereka dan cahaya-cahaya mereka didalam agama dunia dan akherat dengan berkat rahasia surahtul faatehah
Û        أَلْفَاتِحَةَ لَنَا وَلَكُمْ يَا حَاضِرُوْن َبِأَنَّ اللهَ يُعْطِى كُلَّ سَائِلٍ مِنَّا وَمِنْكُمْ سُؤْلَهُ مَا يَرْضَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَوَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْكُمْ وَمَشَائِخِنَا وَمَشَائِخِكُمْ فِى الدِّيْنِ وَأَمْوَاتِنَا وَأَمْوَاتِكُمْ وَأَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ بِأَنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمْهُمْ وَيُسْكِنُهُمُ الْجَنَّةَ وَالْحُجَّاجِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَاْلغُزَّاةِ وَالْمُجَاهِدِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِى البَرِّ وَالْبَحْرِ أَجْمَعِيْنَ بِأَنَّ اللهَ يُصْحِبُهُمُ السَّلاَمَةَ وَيَرُدُّهُمْ إِلَى أَوْطَانِهِمْ سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ وَيُصْلِحُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَكْفِيْهِمْ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ وَيَتَقَبَّلْ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَيَرْزُقُنَا وَإِيَّاكُمْ حُسْنُ الْخَاتِمَةِ عِنْدَ الْمَوْتِ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ وَإِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, بِسِرِّ الْفَاتِحَةَ...... (باج الفاتحة ساتو كالي)
#           “Al-Faatehah Lanaa Wa Lakum Yaa Haadiruun Bi Annallaha Yu’thi Kulla Saa Ilin Minna Waminkum Su’lahu Maa Yardhollahu Wa Roosuuluh Wa Waalidiina Wa Waalidiikum Wa Masyaa Ikhina Wa Masyaa Ikhikum  FidDiin Wa Amwaatinaa Wa Amwatikum Wa Amwaatil Muslimin Ajmai’in Bi Annallaha Yaghfiru Lahum Wa Yarhamhum Wa Yuskinuhumul Jannah Wal Hujjaj Wal Musyaafirin Wal Ghuujati Wal Mujaahidiin Minal Muslimin Fil Barri Wal Bahri Ajma’in
Bi Annallaha Yus Hibuhumus Salaamah Wa Yarudduhum Ilaa Authoonihim Saalimin Ghoonimin Fii Khoirin Wa Luthfin Wa Aafiah Wa Yuslihu Umuurol Muslimin Wa Yakfiihin Syarrol Mu’dzin Wa Yataqobbal Minna Wa Minkum Wa Yarzuquna Wa Iyyakum Husnul Khootimah ‘Indal Ma’ut Fii Khoirin Waluthfin Wa ‘Aafiah Wa Ilaa Hadhrotin Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, Bisirril Faatehah (Baca Surah Al-Faateha 1X)”.
Artinya : Al-Faatehah dihadiahkan kepada kami dan kepada kamu wahai para hadirin, semoga Allah memberikan setiap orang yang meminta dari kami dan dari kamu apa yang dipintanya sesuai dengan apa yang diridhoi oleh Allah Ta’ala dan Rosulnya, juga bagi para orang tua kami dan para orang tua kamu dan juga kepada guru-guru kami dan guru-guru kamu di dalam agama, dan para orang yang meninggal dari kami dan orang yang meninggal dari kamu, dan para orang yang meninggal dari pada kamu muslimin semuanya, semoga Allah mengampuni bagi mereka dan merahmati mereka, dan memberikan kepada mereka tempat tinggalnya berupa surga, dan juga para orang-orang yang menunaikan haji dan para orang-orang musafir dan orang yang berperang di jalan Allah dan para mujahid daripada orang-orang islam di daratan maupun dilautan kesemuanya.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada mereka keselamatan dan mengembalikan mereka ke negerinya dalam keadaan selamat dan mendapatkan keberuntungan di dalam kebaikan dan keafiatan, dan semoga Allah memperbaiki segala urusan orang-orang muslim dan semoga Allah menjaga mereka dari pada keburukan orang-orang yang mengganggu.Dan semoga Allah menerima dari pada kami dan dari pada kamu dan semoga Allah mengaruniakan kepada kami dan kepada kamu mati dalam kebaikan dan keselamatan, kepada hadrah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dengan berkat rahasia suratul faatehah

الدُّعَاءُ بَعْدَ الْفَوَاتِحَ
Û        بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِي مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. أَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَسَبْعِ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ اَنْ تَفْتَحَ لَنَا بِكُلِّ خَيْرٍ وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ وَأَنْ تَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ وَأَنْ تُعَامِلَنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ ِلأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِى أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَهْلِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَفِتْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضَيْرٍ إِنَّكَ وَلِيُّ كُلِّ خَيْرٍ وَمُتَفَضِّلٌ بِكُلِّ خَيْرٍ وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْرٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. أَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلأَوْلاَدِيْنَا وَلِمَشَائِخِنَا فِى الدِّيْنِ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ أَوْصَانَا بِالدُّعَاءِ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. أللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا وَارْضَ عَنَّا وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ. أَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ. أَللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلاَتُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلاَتَحْرِمْنَا وَارْضِنَا وَارْضَ عَنَّا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Do’a Setelah Membaca Susunan Al-Fatehah
#           Bismillaahir Rohmaanir Rohim, Alhamdulilah Robbil ‘Aalamin Hamdan Yuwaafi  Ni’amahu Wa Yukaafi Maziidah Yaa Robbana Lakal Hamdu Kamaa Yanbaghii Lijalaali Wajhika Wa Li’adziimi Sulthoonik, Allahuma Sholli ‘Alaa Saiyyidina Muhammadin Wa’alaa Aalihi Wa Ahli Baitihi Wa Shohbihi Wasallim, Allahumma Inna Nas Aluka Bihaqqil Faatehatil Mu’adzomah Wasab’il Masaani Wal Qur’aanil ‘Adzim, An Taftaha Lana Bikulli Khoir Wa An Tatafadhdola ‘Alaina Bikulli Khoir, Wa Antaj’alana Min Ahlil Khoiri Wa An Tu ‘Aamilana Yaa Maulaana Mu’aamalataka Liahlil Khoir Wa An Tahfadzona Fii Ad Yaanina Wa Anfusina Wa Aulaadina Wa Amwaalina  Wa Ahlina Wa Ash Haabina Wa Ahbaabina Min Kulli Mihnatin Wa Fitnatin Wa Bu’sin Wa Dhoir Innaka Waliyyun Kulli Khoir Wa Mutafaddiliun Bikulli Khoirin Wa Mu’thin Bikulli Khoir Yaa Arhamar Roohimin,
Allahuma Fighlanaa Wa Liwaalidiina Wa Li Aulaadiina Wa Limasya Ikhinaa Fiddiini  Waliman Ahsana Ilaina Waliman Aushoona Biddu’a  Walijamii’il Muslimin Wal Muslimat Wal Mu’miniina Wal Mu’minat Al Ahya’i Minhum Wal Amwat, Allahuma Fighlana Warhamna Wardho’anna Wa Taqobbala Minna  Wa Adkhilnal Jannata Wa Najjina Minannar, Allahumma Ashlih Lana Sya’nana Kullah, Allahumma Zidnaa Walaa  Tankushna Wa Akrimna Walaa Tuhinna  Wa A‘Athina Walaa Tahrimnaa Wardhinaa Wardho’anna Yaa Arhamar Roohimin Wa Sholallahu ‘Alaa Sayyidina Muhammadin Wa Alaa Aalihi Washohbihi Wasallam Wal Hamdulillahi Robbil ‘Aalamin.
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji syukur hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam, pujian yang menyem­purnakan segala nikmatnya dan mencukupi tambahan anugerahnya.
Wahai Tuhan kami.. bagiMu lah segala pujian yang sepadan dengan ke­agunganMu dan kebesaranMu.
Ya Allah limpahkanlah pula cucuran rahmatMu dan kesejahteraanMu bagi jun­jungan kami Baginda Rasulullah SAW. dan segenap keluarga dan para sahabat beliau.
Ya Allah sesungguhnya kami bermo­hon kepadaMu dengan kebenaran yang ter­kandung dalam Surat Al-Fatihah yang Agung dan Sab’ul Matsani serta keagungan Al-Qur-an agar Engkau berkenan membu­kakan bagi kami segala bentuk kebajikan dan mengkaruniakan kepada kami segala kebajikan tersebut. Dan berkenan pula menjadikan kami tergolong orang-orang yang berbuat kebajikan dan memper­la­kukan kami Ya Allah sebagaimana Engkau memperlakukan orang-orang yang telah berbuat kebajikan, menjaga kami, baik agama kami, jiwa raga kami, anak-anak ,harta, keluarga kerabat, handai taulan dan orang-orang yang kami kasihi dari segala bentuk cobaan, fitnah, keburukan dan marabahaya. Sesungguhnya Engkau adalah zat yang berkuasa atas segala kebajikan dan Engkau pulalah zat yang mengarunia­kan dan menganu­gerahkan kebajikan ter­sebut. Wahai zat yang Maha Pengasih diantara para pengasih.
Ya Allah ampunilah kami, orang tua kami, anak cucu kami, guru-guru pendidik agama kami, orang-orang yang berbuat kebaikan terhadap kami, orang-orang yang berpesan doa dari kami dan segenap kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal.
Ya Allah ampunilah kami, kasihi dan ridhailah kami, terimalah kami, masukkan-ah kami ke dalam syurga dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.
Ya Allah perbaikilah segala urusan kami, berikanlah kami nilai tambah dan jangan kurangi kami, muliakanlah kami dan janganlah engkau hinakan kami, anugerahilah kami dan janganlah engkau halangi kami, jadikanlah kami ridha dan ridhailah pula kami, Wahai zat Yang Maha Pengasih diantara para pengasih.
Cucuran rahmat dan salam sejahtera mudah-mudahan Allah limpahkan kepada junjungan kami Baginda Rasulullah Saw. serta para keluarga dan sahabat beliau. Dan segala puji syukur hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam.
Û        أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ (3×).
#           Allahumma Innaa Nas Aluka Ridhooka Wal Jannah Wana 'Uudzubika Min Sakhootika Wannar (3x).
Artinya : “Ya Allah kami bermohon kepa-da-Mu, ridha-Mu dan syurga-Mu, dan kami berlindung dengan-Mu dari api neraka”.
Û        يَاعَالِمَ السِّرِّ مِنَّا لاَ تَهْتِكِ السِّتْرَ عَنَّا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَكُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا (3×).
#           Yaa 'Aalimas Syirri Minna  Laa Tahtikis Sitro 'Anna Wa 'Aafina Wa'fu 'Anna Wakullana Haitsu Kunna (3x)
Artinya : “Wahai zat yang mengetahui rahasia kami janganlah Engkau robek tirai kesalahan kami, berikanlah kami afiat dan ha­puskanlah kesalahan kami jadilah engkau beserta kami dimana saja kami ber­ada”.
Û        يَا اَلله بِهَا يَا اَلله بِهَا يَا اَلله بـِحُسْنِ الْخَـاطِمَةْ (3×).
#           Yaa Allah Bihaa Yaa Allah Bihaa Yaa Allah Bihusnil Khootimah (3x).
Artinya : “Yaa Allah dengan keberkahan nama-nama-Mu yang indah matikanlah kami dalam keadaan baik”.
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. GUMAR NU SETIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger